Monday 27 October 2014

JADI PENULIS BUKAN HANYA UNTUK SEKEDAR ROYALTI

Sebenarnya dunia tulis menulis baru saya tekuni dan minati sekarang, ini berawal dari kebiasaan saya menuliskan hal-hal yang menarik dan ide yang saya kira bagus, lalu saya tulis di status facebook. Tapi dipikir-pikir daripada buat status facebook yang hanya bikin spam atau sampah di profil dan beranda orang lain. Kenapa tidak saya ikutan lomba-lomba menulis, selain menyalurkan bakat saya tentang menulis, menghilangkan stress saya karena saya belajar tipa hari dan filsafat. Why not? Kata saya, masalah menang atau tidak itu bukan masalah bagi saya. Tapi, ya kalau menang pun alhamdulillah. Terus, memang tujuan saya menulis di status facebook memang dengan tujuan agar dibaca oleh para orang lain yang membuka facebook sehingga merubah paradigma mereka dan merevolusi mental . Dan saya tahu bahwa setiap orang di dunia kebanyakan mempunyai Fb . Jadi, dengan sengaja atau tidak sengaja mereka pasti membacanya walau saya membatasi jika pun tidak suka dengan apa yang saya posting silahkan blokir Fb saya.


            Dunia tulis menulis baru saya mengerti dan dalami ketika saya kuliah di STFI SADRA Jakarta pada saat pelajaran Bahasa Indonesia dengan dosen Pak Hernowo, Penulis yang telah membuat banyak buku. Buku beliau yang terkenal adalah tentang mengikat makna. Pak Hernowo adalah alumni ITB dan sangat menyukai tulis- menulis, suka membaca buku Harry Potter karya JK Rowling, pernah bekerja di Mizan sebagai editor. Saya belajar banyak hal padanya tentang bagaimana menulis di ruang privasi, menulis mengikat makna, dan coba menulis apa-apa yang kita dapat, mencoba merubah tulisan sesuai dengan EYD dan tanda baca yang benar. Walaupun saya merasa masih sangat kurang, dan saya masih ingin terus belajar lagi tentang dunia tulis menulis.
            Bagi saya, tulis menulis dan membuat buku bukan hanya tentang royalti atau menjadi terkenal . Walau itu bagus juga jika buku yang kita buat booming dan best seller seperti penulis Habiburrahman Elshirazy, Tere Liye, Gol A Gong, dan penulis profesional lainnya. Bagi saya menulis dan membuat sebuah buku lebih daripada itu. Ini adalah tentang masalah eksistensi diri, bagaimanapun kita pintar setinggi langit, jika kita tidak menulis dan orang lain tidak tahu itu percuma saja, bukan sombong tapi ingin berbagi ilmu dengan yang lainnya. Dengan menulis kita bisa hidup seribu tahun lagi. Kita telah tahu beberapa penulis nasional dan internasional yang terkenal. Tapi saya lebih tertarik untuk melihat bagaimana tulisan dan karya ulama terdahulu pada zaman dulu kala seperti Ibnu Rusyid dengan “Tahaffut Attahafut”, Al-Ghazali dengan “Attahafut Alfalasifah”, Ibnu Sina dengan “Qonun fi Al-tib”, dan banyak lagi ulama yang lain, bukunya masih kita gunakan sampai sekarang.
            Memang zaman dahulu ilmu pengetahuan sangat dijunjung tinggi di dunia islam, contohnya setiap tulisan yang dibuat akan diganti dengan emas sesuai berat buku yang dibuat. Namun, seperti judul saya menulis bukan hanya tentang masalah royalti, menjadi Penulis dan di tolak itu adalah hal yang biasa, karena jika tidak di tolak maka mudah sekali dan tidak ada tantangan bagi kita untuk lebih serius lagi, dan berubah menjadi lebih baik lagi. Walau jangan terlalu sering juga di tolak hhe J .
            Kita tahu buku-buku filosof barat “Republika” karya Plato menjadi dasar dari peradaban dan kita tahu bahwa pada zaman Yunani sebelum masehi telah terjadi peradaban yang maju, kita bisa tahu kejadian apa yang telah terjadi pada masa itu dengan tulisan-tulisan, Contohnya : tulisan hegrolif di Mesir, tulisan prasasti di Bogor, karena tulisan di prasasti bisa hidup lebih lama. Bukan tidak mungkin jika tulisan yang kita buat di penerbit juga bisa tahan lama. Karena, dalam menulis buku bukan hanya tentang bagaimana buku kita dipajang di etalase toko buku saja, tapi bagaimana tranformasi terjadi pada diri kita dan orang yang telah membaca buku kita menjadi lebih baik lagi.
            Menjadi penulis bukan cita-cita pertama dan jadi yang utama, saya lebih suka dengan sosok Pak Haidar Bagir selain seorang penulis beliau juga seorang CEO di sebuah perusahaan publishing, dan juga membuat banyak lembaga amal seperti Mizan Amanah dll, saya suka dunia bisnis dan menulis. Keduanya bisa disatukan dan bisa dikembangkan, disela-sela kegiatan kampus saya yang padat saya coba untuk meluangkan isi pikiran yang ada dalam otak saya, apalagi mata kuliah yang saya pelajari bukan termasuk hal yang mudah, yaitu filsafat. Oke ,Jadi kesimpulannya jadi Penulis bukan hanya  sekedar royalti, tapi tentang seberapa lama eksistensi kita di dunia ini, seberapa manfaat diri kita di dunia ini, seberapa lama hidup kita di dunia ini, seberapa banyak amal zariyah  yang kita berikan untuk dunia ini. Karena kita tahu kita tidak akan hidup selamanya. Tapi ilmu kita akan hidup dan dikenang selamanya dalam sejarah.
            Jika anak adam meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya, kecuali 3 hal, yaitu : anak soleh yang mendoakan orang tuanya, ilmu yang bermanfaat dan amal zariyah  yang terus mengalir, dalam akhir perjalanan dan istirahat hidup kita, kita disuruh untuk memilih untuk menjadi orang kebanyakan dan rata-rata orang, yakni hidup – kerja – meninggal – dilupakan dunia, atau memilih menjadi orang yang dikenang, hidup – kerja – menulis – membuat suatu karya – hidup selamanya. Seperti para filsuf, seperti para penulis, seperti para raja yang terkenal, seperti orang –orang baik dan tercantum dengan abadi dengan tinta emas, bukan tinta kotor yaaa .
Kita bisa memulai menerbitkan buku di rasibook
Dan saya pun telah mencoba untuk menerbitkan dan menekuni bidang tulis-menulis ini.
Mulailah dengan rasibook, kalau bukan sekarang kapan lagi

http://www.rasibook.com/p/tentang-kami.html

                        Terimakasih...

Wassalamualaikum... Wr. Wb.


0 komentar:

Post a Comment

 
;